"Ambeci'i Satru Iku Panungguling Kahutaman, Kridaning Ati Ora Biso Mbedah Kutaning Pasti, Budidayane Manungso Ora Biso Ngungkuli Panguasane Kang Moho Kuoso"

Malam di Penghujung Hayat part II

    
Sambil meminum teh yang di buatkan oleh istrinya parman (panggilan akrabnya) bercerita tentang pemberhentian bekerja di pabrik tebu tersebut, tanggapan sangat istri sedih juga bercampur bahagia karna parman sudah di suruh berhenti dengan istrinya namun suparman tetap kukuh pada pendiriannya bahwa bekerja tak membuatnya lelah demi mengiidupi keluarga kecilnya. 

    "Bu.... Bapak minggu depan sudah mau di berhentikan bekerja, karna umur bapak sudah lebih dari 60 tahun, artinya bapak akan nganggur dong bu.."Ucap suparman dengan sedih hati. Namun jawaban sangat istri sungguh sangat mengenakkan hati karna sarinah adalah termasuk istri yang patuh pada suaminya.
 
    "Ya kalau itu memang jalan terbaik buat kehidupan kita pak mau gimana lagi, toh anak-anak juga sudah hidup mandiri di kota dengan segala kebutuhannya yang lengkap, kita kan cuma bisa berdoa untuk kebaikan kita saja pak dan bekerja sesuai kemampuan kita pak" Ucap sarinah dengan tabah.

    Anak-anak suparman kini telah dewasa dan telah memiliki hidup yang layak di kota, suparman tak pernah meminta sepeserpun kepada anaknya walaupun suparman sudah renta dengan umurnya. 

    "Ya sudah kita istirahat dulu pak besok kan bapak masih kerja di pabrik", Lanjut istrinya sambil memandang wajah suaminya dengan penuh kasih. Kemudian suparman dan istrinya pun tidur bersama di kamar kecilnya tersebut. 
    Embun dan cuaca yang dingin pun mulai menusuk sampai ketulang suparman yang kini terbangun oleh suara ayam jantan yang berkokok, pagi itu tepat pukul 07.30 WIB suparman beranjak dari tidurnya yang sangat nyenyak, terdengar suara istrinya memanggilnya 
    "Pak bangun sudah siang ini bapak kan nanti mau bekerja" Ucap istrinya sambil menyiapkan sarapan untuk suparman yang baru bangun setelah di bangunkannya. "Iya bu.... Bapak bangun kok ". Kemudian suparman dan istrinya sarapan, setelah itu suparman berangkat dengan perasaan yang senang bercampur sedih karna akan di berhentikan bekerja minggu depan, namun tetap sabar dan tabah menghadapi itu semua, Parman melaksanakan pekerjaannya dengan sepenuh tenaganya untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang akan di dapatkan sebagai upahnya.

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Malam di Penghujung Hayat part II"

Unknown said...

Brut

I'm Nashi said...

Interesting