"Ambeci'i Satru Iku Panungguling Kahutaman, Kridaning Ati Ora Biso Mbedah Kutaning Pasti, Budidayane Manungso Ora Biso Ngungkuli Panguasane Kang Moho Kuoso"

Kemelut Rindu


Tetes demi tetes tangisan semesta jatuh dengan indahnya 
Senada dan seiring dengan goresan luka yang semakin lama semakin menyiksa dada 
Tak terkecuali juga yang ada di dalam kepala 
Sajak-sajak yang menggambarkan tentangmu selalu bergeming dalam ingatan yang tak ingin 
*** 
Terakhir ku lihat banyang-bayangmu di dalam kelelahan merinduku 
Sejak saat itu raga ini seakan terhempas oleh kemelud hati yang tak tentu 
Apakah kau pergi dalam waktu yang sebentar? atau mungkin tak akan kembali padaku. 
Dengan segala keresahan yang mengganggu relung hatiku Kurasa rindu ini tak hanya sekedar rindu 
*** 
Detik, menit, jam, dan hari demi hari telah berlalu dalam ingatan yang seakan tak menginginkan lupa akan seorang yang dulu di utamakan 
Kendati demikian, kini tak sepucuk surat atau titik yang kau torehkan dalam sebuah pesan yang kau kirimkan 
Hanya sebuah kabar dari orang terdekatmu di perantauan yang mengatakan, bahwa kau sudah ada yang mengutamakan. 
***
Resah menjalar dalam fikiran, yang kemudian ku curahkan dalam tulisan yang bertajuk "Kemelud Rindu"
Menggapaimu kini adalah sebuah kesalahan dalam diriku 
Menginginkan untuk bersanding denganmu adalah sebuah kemustahilan yang pernah berlaku 
Demikian sudah tergores segala harapan dan rinduku setelah sekian waktu menanti dirimu. 
Muara Lakitan, 06 Juli 2022

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kemelut Rindu"